Selasa, 01 September 2015

KEEP SPIRIT! KEEP HAPPY! ^___^

Seperti mendapatkan asupan gizi yang lebih baik lagi.

Kata-kata di atas bukan hanya sekedar tulisan yang cukup untuk dibaca. Akan tetapi harus dihayati dan diperjuangkan dalam-dalam maknanya.

terkadang kita memang harus tuli dengan kalimat-kalimat negatif yang membuat diri menjadi pesimis. tinggalkan! dan itu hanya akan membuatmu tak bergerak, apalagi maju menjadi lebih baik lagi.

tapi, kita harus selalu mendengarkan kalimat-kalimat positif yang orang lain berikan, karena itu merupakan bagian dalam proses kehidupan kita untuk menuju lebih baik.

lalu, apa yang kita lakukan apabila kita ingin mendapatkan apa yang kiita inginkan dengan baik?

-FOKUS-
 tak peduli alar melintang, sesulit apapun keadaannya ,kau harus tetap fokus. gantungkan harapan itu setinggi-tingginya bahkan harus berada didepanmu. seakan dekat. 

lalu, apalagi?

-YAKIN-
menghapus keraguan, meningkatkan segala yang tak mungkin menjadi mungkin.

-PERCAYA DIRI-
percaya diri wajib diperlukan dalam proses menuju apa yang kita inginkan, namun sebelum kita percaya diri. pasikan bahwa ilmu kita telah mumpuni untuk mencapai hal yang kita inginkan. 

lalu bagi saya, yang tak kalah penting adalah ISTIQOMAH dan BERDO'A
karena itu merupakan aset kita terhadap Allah, bentuk perwujudan dan pengakuan diri bahwa kita merupakan manusia yang lemah ,dan sangat membutuhkan pertolongan dan kasih sayangNYA 



Jadi, siap kah kita menjadi orang yang sukses?
HARUS SIAP ! ^___^
Share:

Senin, 31 Agustus 2015

untuk keskian kalinya, kembali ke kamu!

Ke jurnalistikan! Ya!
Aku kembali,  kembali membangkitkan semangatku , bahkan mungkin cita-citaku ketika masaku memakai baju putih biru.

Entah memang sudah seharusnya aku terus berada di jalan ini, mencari cari kebenaran akan sebuah informasi, serta dekat dengan para petinggi kampus, dan juga belajar lebih kritis dalam menghadapi suatu persoalan.

Meski terkadang, ini bukan zona ku yang dulu, ada sedikit rasa terhambat untuk saat ini. Atau itu hanya sebuah ilusi yang ingin mempersempit naluri.

Namun, rasa rasanya aku akan terus berada di jalan ini meski dengan cara yang berbeda, dengan caraku yang tak banyak orang pahami.

Semoga apapun itu bentuknya, aku-kita dapat berguna bagi sesama.

Share:

-rangkaian kata-



Kau pernah bilang cinta
Akulah satu-satunya
Kau bilang ku sempurna
Kau cinta aku selamanya
Dan kau tuliskan lagu
Semua tentang diriku
Kau katakan padaku
Jangan ragukan cintamu
Semua hanya rangkaian kata
Yang kau sebar ke semua wanita
Ooh bodohnya aku sempat percaya
Kamu..
Sempat buatku berpikir semua
Yang kita punya nyata
Kamu..
Dan semua kata-katamu semua 
Palsu


Kau pernah bilang aku
Istimewa di hidupmu
Tak kan ada yang mampu
Gantikan cintaku padamu
Kau tatap mataku
Kau bilang hatimu untukku
Kau berjanji padaku
Takkan pernah pergi dariku
Semua hanya rangkaian kata
Yang kau sebar ke semua wanita
Ooh bodohnya aku sempat percaya
Kamu..(kamu..)
Sempat buatku berpikir semua
Yang kita punya nyata
Kamu.. (kamu..)
Dan semua kata-katamu semua
Palsu





Jleb!
Seketika itu yang saya rasakan saat ini,
Sebelumnya pernah denger lagu ini, tapi dulu saya acuhkan karena liriknya kurang ngena.tapi kemarin setelah iseng-iseng denger lagu ini di handphone punya temen rasanya kok nge-pas banget ya?, semua kalimatnya itu saya bangeeet rasanya.#curhaat!

Mungkin, setelah merasakan kehilangan kemarin, saya baru sadar, saya tak bisa terus menjadi orang lain, yang masih kebingungan bergulat dengan jati diri yang masih bingung untuk ditemukan. Meski sampai saat ini, hanya masih bisa dirasa. 

Tapi, benar juga apa yang tertera di lirik lagu -Rangkaian Kata- ini, perempuan yang makhluk perasa memang kadang menjadi makhluk yang bodoh bila telah dihadapkan dengan ‘cinta’. Disini saya sudah mulai berpikir bahwa peran akal pun sangat amat dibutuhkan ketika kalimat-kalimat yang seakan akan selama-lamanya ini keluar dari mulut seorang lelaki yang belum mengikat sesuai dengan syari’at. 

Perempuan terkadang menjadi makhluk yang sulit untuk melepaskan ke-geer-annya, padahal bisa jadi, makhluk yang berjenis laki-laki itu tidak ada maksud sama sekali tapi dianggap lain oleh perempuan.

Yaah, begitulah kejadian-demi kejadian yang pernah saya alami dan juga saya lihat. Kalau begini harus bagaimana dong?

Simpelnya. Jangan berharap. 
jangan langsung percaya.

Dan lebih baik menjaga diri dengan baik, tetap ramah-tapi tidak pakai geer! 


Share:

Minggu, 16 Agustus 2015

Mencintai Kehilangan


Mencintai kehilangan





“semoga ini yang terakhir.”

Aku mengaminkan , semoga.

Semoga tak ada lagi sisa sisa harapan yang telah lama mengendap, yang kini seakan berterbangan entah kemana. Hampa.

Meski begitu ,kini aku mencintai kehilangan, meskipun rindu terkadang menghujam setiap organ tubuhku, tapi aku lebih menikmati hal itu.

Dengan mencintai kehilangan, aku dapat mengikhlaskan sesuatu yang memang tak ada hak nya untukku, merelakan sosok yang ‘seakan’ dia adalah belahan jiwa yang akan sehidup semati.

Tak ada penyesalan dalam diri ,karena aku tahu mencintai tak melulu harus di pertontonkan, tak harus di publikasikan, cukup dengan keheningan, toh ketika kita merasakan perihnya kehilangan , suasana sunyi lebih menenangkan, bukan?



Dengan seperti ini, aku dapat mencintai diriku lebih dalam, mengenali Tuhanku yang sangat Maha Pengasih terhadapku yang masih memberiku kesempatan untuk dapat berdekatan lebih intens dengan-Nya.

Pilu, hampa, ini hanya sementara. Karena sejatinya, kehilangan yang sangat menyakitkan adalah ketika kau menganggap semua hal di dunia ini tidak lagi menyayangimu. Ketika kau tidak lagi dapat merasakan kenikmatan mencintai dirimu sendiri , dan juga Tuhanmu. Ketika inspirasimu hilang, itu sangat menyakitkan. Ketika semangatmu hilangpun sangat menyakitkan.

Tapi kini, aku mencintai kehilangan yang membuatku kembali mencintai diriku lebih dalam, yang mengajarkan bahwa berharap kepada manusia, bukanlah sebaik-baiknya berharap! J




Share:

Jumat, 03 Juli 2015

Berkah Ramadhan



“ Bukber  SD tanggal 1, bukber SMP tanggal 7 ,bukber SMA tanggal 10 , bukber kuliahnya kapan,ya?”

mendadak jadi orang sibuk. Pikir saya, bulan Ramadhan memang bulan yang penuh dengan keberkahan, serta kemurahan hingga yang tadinya orang yang nggak pernah wara-wiri kemana mana, mendadak jadi orang sibuk. Mendadak, bulan Ramadhan selalu dijadikan ajang bukber momentum sekalian reunian dengan teman-teman yang gak pernah ketemu sama sekali sampai yang sering ketemu.
Dulu, ketika saya belum  se-besar ini, saya masih seneng-seneng aja kalau bukber, gak terlalu memikirkan shalat Tarawih yang memang adanya hanya di bulan Ramadhan ini. Tapi sekarang, seiring berkurang nya usia, semakin banyak nya peristiwa-peristiwa untuk bermuhasabah diri, keinginan untuk “senang-senang aja” banyak dipikir ulang.
 Memang, gak ada salahnya bukber malah salah satu sarana untuk bersilaturrahim, seperti dalam Hadist Riwayat Anas bin Malik ra, Ia berkata : ‘aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahim), tetapi perlu dipikirkan ulang kalau dalam acara buka bersama itu kita melalaikan Shalat Maghrib. Jangan dulu deh kepikiran Shalat Tarawih yang jelas-jelas Sunnah, ini yang shalat fardhu apa kita dapat menjaga totalitas puasa kita dengan “melalaikan” shalat Maghrib itu?
Puasa seharian melawan hawa nafsu-melawan lapar dan haus-, dan harus di “rusak” dengan melalaikan bahkan Naudzubillah kalau sampai meninggalkan Shalat.
Maka dari itu....
Yuk, jadikan bukber sebagai sarana kita untuk beribadah dengan baik, saling berbagi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat, saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan hanya tau “senang-senang” saja, karena sebaik-baiknya teman yang dapat menunjukkan kepada kebaikan, yang dapat membawamu ke arah yang lebih baik lagi. Dan...bukankah beribadah bersama teman itu membahagiakan?
                                                                                                Wallahu A’lam Bisshawab ... J
Share:

Kamis, 12 Februari 2015

Tersenyumlah....





Pertemuan singkat itu ternyata menyisakan sebuah kerinduan yang teramat hebat.
8 tahun tidak bertemu, dan kini bertemu kembali di suatu tempat yang pernah mereka lalui.

Ia masih seperti dulu, seperti lelaki yang ku kenal dari 8 tahun yang lalu, masih setia menatap penuh dengan perasaan yang tak tergambarkan, dan kini, ia masih mau mencariku.
Tepat di rumah makan di pinggir pantai,kami bertemu. Deru debur ombak berlarian meramaikan suasana diantara kami.
Selama 8 tahun terakhir aku tidak mengetahui keberadaannya, dan kini aku memenuhi permintaannya yang mendadak untuk bertemu di tempat ini.

Ia mengucapkan salam, dan lagi-lagi masih dari kebiasannya sejak dulu.
Aku tersenyum, menjawab dengan pelan salam darinya.
Tak ada sentuh jabat tangan dan lainnya, kami menempati kursi masing-masing dan berhadapan.
Tapi, oh tidak, rasanya aku sangat tak bisa berhadapan dan beradu tatapan dengan matanya. Ku serongkan badan, dan ia pun tersenyum melihat tingkahku, seakan mengerti.

Hening.
Waktu berjalan terasa lambat sekali, dan rasanya bibirku kelu untuk mengucapkan apapun untuknya.
“apa kabar, Refa?”
Sedikit terbata, aku menjawab “kabarku baik” aku tersenyum.
“maaf, telah menggangu waktumu, hanya untuk bertemu dengan lelaki sepertiku”
Aku menatapnya, mencerna kalimat yang barusan ia sampaikan.
Tapi, rasanya rinduku terlalu hebat, egoku tak terkendali,
“darimana kamu selama ini, Raya?”
Tiba-tiba sesak dalam dadaku bergemuruh, rasa sakit, rindu, semuanya berlomba ingin keluar melalui isak tangis.
“maafkan aku Refa, rasanya kalau mengingat kembali masa itu, aku tak bisa. Aku ingin mengubur semua kenangan pada masa itu”
“tapi selama ini, adakah kamu mencari cinta lain?”
Ia terdiam, tertunduk, seperti tengah berusaha keras menyembunyikan sesuatu.
“apakah kau mencari cinta lain, Raya?” tanyaku lagi
Ia mentapku dalam-dalam, seperti lelaki yang kehilangan kekuatan, terlihat tegar, namun sebenarnya aku tahu, ia sangat lemah.
“ya, aku mencari orang lain, Refa”
Seperti gemuruh petir di siang bolong, aku menelan ludah, terasa sakit sekali kerongkonganku.
“dulu, aku mencari cinta lain, bukan berarti aku sudah tidak memiliki perasaan lagi untukmu, Reva. Aku mencari ketika saat itu aku butuh sandaran, dan untuk menghubungimu aku enggan, aku merasa tak pantas.”

Apa? Apa katanya tadi?
Mudah sekali ia mengatakan seperti itu, aku disini berusaha untuk tetap bangkit, meski harus berkali-kali merasakan hujaman rindu, meski terus berharap agar lelaki itu dapat menjaga dirinya dengan baik.
“Refa, sebelum kita tak bertemu, adakah kamu menjelaskan kenapa kita harus berpisah selama ini?”

Aku diam tak bergeming.
“adakah kamu menjelaskan itu?, bukankah kamu yang memutuskan untuk pergi? Tanpa memberiku kesempatan untuk menanyakan alasannya?”

Aku hanya takut, aku pergi karena aku tak ingin membuatnya terbebani oleh aku, semua permasalahan yang aku punya, aku tak ingin ia merasakannya juga, aku hanya takut menyampaikannya, takut ia semakin memikirkan keadaanku. Tapi disisi lain, aku pun selalu mengharapkan ia kembali dan hadir kembali disisiku.

“Refa, aku pun laki-laki yang butuh kepastian. Aku pun selalu berharap kamu kembali, meski aku tidak tahu kabarmu selama ini. Aku pun butuh sandaran yang ketika dulu kamu menjadi sandarannya lalu menghilang, apa aku bisa tenang?”

Apakah masih ada sedikit namaku dihatimu itu, Raya?
Apakah keputusanku salah sehingga kau tak mampu menjaga hatimu, yang selama ini aku harapkan hanya untukku?

“tapi, sudahlah. “ lelaki itu tersenyum.
“ada kabar baik, yang ingin aku sampaikan”
“aku telah bertunangan, Refa. 2 minggu lagi aku akan menyunting wanita yang selama ini menjadi penggantimu, yang selama ini menemaniku ketika kamu tak ada disini”

Tuhan,
Apa aku tak salah dengar?
Apa aku sedang berhalusinasi?
Kenapa tiba-tiba air mata ini mengalir begitu derasnya dan tak tertahankan?
Aku tak mampu menahan isak tangis yang sedari tadi menunggu untuk dikeluarkan. Rasanya seluruh organ tubuhku merasakan sakit. Bahuku berguncang begitu keras. Aku tak peduli, saat itu aku dimana. Yang pasti aku ingin saat itu juga aku tak bisa terus menerus menahan kesedihan.

Setelah aku merasa tenang, aku menatapnya lagi.
“selamat, Raya. Semoga kamu selalu berbahagia” ucapku sambil tersenyum. Tulus.
“terimakasih Refa, aku sudah tahu bagaimana konskuensinya bila tidak dengan kamu.”
Aku tersenyum, dan pamit untuk bergegas pulang.


Aku takkan melupakan pertemuan ini, yang pasti akan menghadirkan rasa rindu yang amat hebat.
Aku akan tetap seperti ini, biarlah kelak ada sesosok adam yang menjemputku dengan tulus.
Aku tersenyum, lega sekali.
Raya, kau akan selalu disini, meski bukan di tempat yang istimewa, kau akan tetap disini.
Tuhan,
Kalaupun semua terasa tidak baik, aku mohon, perlihatkanlah kepadaku selalu hal yang baik-baik.



Share: