Mencintai kehilangan
“semoga ini yang terakhir.”
Aku mengaminkan , semoga.
Semoga tak ada lagi sisa sisa harapan yang telah lama
mengendap, yang kini seakan berterbangan entah kemana. Hampa.
Meski begitu ,kini aku mencintai kehilangan, meskipun rindu
terkadang menghujam setiap organ tubuhku, tapi aku lebih menikmati hal itu.
Dengan mencintai kehilangan, aku dapat mengikhlaskan sesuatu
yang memang tak ada hak nya untukku, merelakan sosok yang ‘seakan’ dia adalah
belahan jiwa yang akan sehidup semati.
Tak ada penyesalan dalam diri ,karena aku tahu mencintai tak
melulu harus di pertontonkan, tak harus di publikasikan, cukup dengan
keheningan, toh ketika kita merasakan perihnya kehilangan , suasana sunyi lebih
menenangkan, bukan?
Dengan seperti ini, aku dapat mencintai diriku lebih dalam,
mengenali Tuhanku yang sangat Maha Pengasih terhadapku yang masih memberiku
kesempatan untuk dapat berdekatan lebih intens dengan-Nya.
Pilu, hampa, ini hanya sementara. Karena sejatinya, kehilangan
yang sangat menyakitkan adalah ketika kau menganggap semua hal di dunia ini
tidak lagi menyayangimu. Ketika kau tidak lagi dapat merasakan kenikmatan
mencintai dirimu sendiri , dan juga Tuhanmu. Ketika inspirasimu hilang, itu
sangat menyakitkan. Ketika semangatmu hilangpun sangat menyakitkan.
Tapi kini, aku mencintai kehilangan yang membuatku kembali
mencintai diriku lebih dalam, yang mengajarkan bahwa berharap kepada manusia,
bukanlah sebaik-baiknya berharap! J
0 komentar:
Posting Komentar