Aku tahu dia sedang tidak berbohong,
tapi aku tahu semua tindakannya adalah suatu kebohongan.
Tapi aku sedang rindu, rindu berceloteh apa saja seperti anak kecil sedang pamer mainan.
Tapi aku berharap rindu ini hanya sebuah canda yang penuh kebohongan.
Katanya kau ingin aku bahagia, ingin aku selalu nyaman.
Tapi aku tahu kamu sedang tidak sungguh-sungguh mengatakannya.
Minggu, 21 Agustus 2016
Minggu, 07 Agustus 2016
perihal senja
Selasa, 07 Juni 2016
Terlalu banyak permainan yang menyakitkan kali ini
Aku malas hidup di antara orang orang itu.
Aku hanya ingin hidup bersamamu.
Melewati sunyi yang begitu syahdu
Tanpa harus mendengar teriakan kosong
Para pembual itu
Aku hanya ingin hidup bersamamu
Merangkak bersama melewati duri-duri
Tajam yang menyakitkan
Aku hanya ingin hidup bersamamu
Tanpa jeda, tanpa tapi dan tanpa alasan.
Rabu, 11 Mei 2016
Syahdu
Namaku Syahdu.
Kata ayahku
,konon dahulu ia ingin memiliki ketenangan dan kenikmatan, juga kekhidmatan.
Selama hidupnya ia selalu merasa bising dengan keadaan sekitar yang tak pernah
selaras dengan kehidupannya, maka ketika ia memiliki seorang anak, yaitu aku.
Ia menamakannya syahdu.
Ibuku seorang
wanita yang sangat lembut dan sangat taat. Maka ketika ayah menikahi ibu ia
sudah mendapatkan setengah ketenangan dari kehidupannya, dan menjadi genap
ketika aku lahir.
Tapi meski
begitu, hidupku tak se-syahdu namaku.
Aku memiliki
kepribadian yang sangat jauh dengan arti namaku, aku yang tak bisa diam dan
sangat menyukai tantangan tidak menyukai hidup yang statis yang hanya taat pada
hal-hal yang lurus-lurus saja. meski
begitu kata ayah ia tetap merasakan ketenangan ketika melihatku.
Tapi ada sisi
lain yang sudah lama aku rasakan dari jiwaku, jiwaku sangat menyukai sepi,
selalu bercakap-cakap ketika selesai dari petualangan2 yang aku lalui.
Terkadang aku di ajak untuk perang dan beradu argumen. Aku pun tidak mengerti
kenapa begitu riuhnya jiwaku ini.
Sabtu, 20 Februari 2016
cakap-cakap bersua
Ketika diluar sedang ramai-ramainya orang membicarakan LGBT
atau para pekerja yang sedang bekerja keras mengumpulkan rupiah. Aku, di kamar
yang hanya ramai oleh suara kipas berputar, masih sibuk berbincang-bincang
dengan diriku sendiri. Melelahkan memang. Tak mendapatkan jawaban apapun dari
pembicaraan ini. Tapi ini nyata. Aku rasanya tak pernah berhenti mengajak
diriku berbincang-bincang terlalu dalam seperti ini.
Memang aku bukan seorang filsuf yang dapat menghasilkan
pemikiran-pemikiran baru ataupun seorang politikus yang memperdebatkan segala
macam tetek bengek aparatur negara dan ‘keindahannya’. Aku hanya seorang yang
sangat jeli melihat perubahan sosial dalam diri seseorang maupun lingkungan
sekitarnya. Meski tak seratus persen benar, setidaknya ke jeli-an ku di akui
oleh sebagian orang.
Entah ini perubahan atau tidak. Yang jelas kata perubahan
selalu mengarah kepada yang lebih baik.
Aku meresahkan komunikasi verbal-ku akhir-akhir ini. Oh,
bukan. Tetapi beberapa tahun belakangan ini. Entah, aku menjadi lebih monolog
dalam suatu percakapan. Lebih senang menerka-nerka setiap kejadian maupun sudut
yang aku amati.
Padahal, kalau mau mengulang ketika aku masih berstatuskan
siswi SD maupun Mts tak pernah rasanya aku merasa canggung dengan orang-orang
di sekitarku. Aku (merasa) sangat cakap dalam berbicara, dan pandai membuat joke-joke
segar dalam suatu perkumpulan. Teman-teman yang lama-lama berbentuk ‘genk’
pun aku mendapatkannya, merasakan kalau aku punya andil dalam hubungan
pertemanan tersebut. Tapi semenjak aku membanting setir menjadi seorang ‘santri’,
aku yang tak pernah memutuskan untuk mejadi pendiam secara perlahan-perlahan
menghampiri.
Meski belum se-ekstrem sekarang ini, setidaknya aku tahu
sejak kapan perubahan komunikasi verbal-ku menurun.
Anehnya, ketika aku mencoba mulai seperti dahulu. Entah apa
yang ada di dalam diriku ini seperti ada yang hilang. Hampa. Seperti tidak rela
kalau aku kembali seperti dulu. Memprotes dengan cara sulitnya aku membasahkan
mata. Bahkan, mengembunkannya saja, sulit!
Meski sudah merayu bahkan memohon, ada bagian tersendiri
dalam jiwaku yang sudah tidak bisa kembali. Bedanya, mungkin saat ini ia lebih
senang tertuang dalam sebuah tulisan. Segala bentuk rasa ia lebih memilih
sendiri- tanpa melalui pendengaran. Tetapi penglihatan.
Dan itu yang menjadikanku selalu berdebat dengan diriku
sendiri. Bercakap-cakap dengan asyiknya- meski di luar sana sepi menyelimuti
percakapan kami. Nyatanya, meski aku pernah berpengalaman dekat dengan seseorang
yang di jurusan Komunikasi, tak mampu merayu diri mengompromikan segala
keindahan komunikasi verbal-ku yang dulu.
Merindu dengan mudahnya bercakap-cakap dengan Ibu, tertawa
hingga matanya menyipit. Dengan ayah yang di akhir selalu meledekku dengan
kalimat-kalimat konyolku. Tanpa harus banyak isyarat, tanpa harus banyak pengamatan
begitu dalam.
Jadi, apa kabar verbal-ku? Sungguh, aku merindukanmu.
Selasa, 09 Februari 2016
Guratan kecil di layar handphone ku
Rancu.
sepertinya aku begitu rancu memaknai hidup ini, Tuhan.
hidup di dunia yang katanya sulit di tafsiri ini.
sepertinya aku terlalu menikmati ke-fana-an ini.
meski Kau memelukku dengan nikmat serta tamparan yang seharusnya menyadarkan, entah mengapa aku tak menggubrisnya.
ada apa denganku Tuhan? mengapa begitu jauh dari-Mu.
apa karena banyak yang mengalihkan perhatianku dari-Mu?
yang semu-menyemukan?
yang tak pasti.
tampar aku Tuhan. tampar..
agar gemuruh dalam dadaku tenang.
Pulang.
kau tahu, pulang selalu memberikan kesempatan untuk kembali.
Datang-Pergi
orang-orang yang kini hadir dalam kehidupanmu, mereka seakan gambaran orang yang ada di masa lalumu atau bertemu kembali di masa depanmu. meskipun tidak dengan orang yang sama.
Mu(lut)al
akhir-akhir ini. mulutku lebih banyak mengeluarkan kata-kata. tapi aku merasa seperti banyak berbual.
enek. mual rasanya mencecap mulut sendiri.
Tangis.
sudah lama aku tidak menangis.
Tuhan memang Maha Tahu. hari ini. hari dikhususkannya aku menangis sejadi-jadinya rintihan jiwaku.
Kereta.
semua orang sibuk dengan gadget nya masing-masing.
mengetik dengan sibuknya kata perkata yang akan dikirimkan sebagai balasannya.
namun, aku masih bercakap-cakap ria dengan hatiku sendiri.
atau ruh-ku. yang beberapa hari ini mengajakku membahas lebih dalam tentang rindu dan kesepian ku kepada Tuhan.
Pembunuh.
kau tahu, pembunuh paling jahat adalah diriku sendiri.
karena ia harus membunuh setiap rasa- bahkan dahsyatnya rindu yang tak bertuah.
Jawaban dari Keresahan.
tak ada lagi tulisan yang membualiku.
tapi kini aku paham.
itulah jawaban atas segala kegelisahanku selama ini.
jawaban bahwa ia memang semu-menyemukan. dan tak akan pernah nyata.
sekalipun aku berusaha membenarkan-itu tak akan pernah benar. sedikitpun!
aku sudah memiliki jawabannya. malam ini.
aku harus menutup rapat- menjaga kesetiaanku-harus!
Pelukan.
aku memang harus memeluk semua kenangan menyakitkan itu. harus.
agar damai hatiku. aku tak akan melupakan. aku akan selalu memeluknya.
sepertinya aku begitu rancu memaknai hidup ini, Tuhan.
hidup di dunia yang katanya sulit di tafsiri ini.
sepertinya aku terlalu menikmati ke-fana-an ini.
meski Kau memelukku dengan nikmat serta tamparan yang seharusnya menyadarkan, entah mengapa aku tak menggubrisnya.
ada apa denganku Tuhan? mengapa begitu jauh dari-Mu.
apa karena banyak yang mengalihkan perhatianku dari-Mu?
yang semu-menyemukan?
yang tak pasti.
tampar aku Tuhan. tampar..
agar gemuruh dalam dadaku tenang.
Pulang.
kau tahu, pulang selalu memberikan kesempatan untuk kembali.
Datang-Pergi
orang-orang yang kini hadir dalam kehidupanmu, mereka seakan gambaran orang yang ada di masa lalumu atau bertemu kembali di masa depanmu. meskipun tidak dengan orang yang sama.
Mu(lut)al
akhir-akhir ini. mulutku lebih banyak mengeluarkan kata-kata. tapi aku merasa seperti banyak berbual.
enek. mual rasanya mencecap mulut sendiri.
Tangis.
sudah lama aku tidak menangis.
Tuhan memang Maha Tahu. hari ini. hari dikhususkannya aku menangis sejadi-jadinya rintihan jiwaku.
Kereta.
semua orang sibuk dengan gadget nya masing-masing.
mengetik dengan sibuknya kata perkata yang akan dikirimkan sebagai balasannya.
namun, aku masih bercakap-cakap ria dengan hatiku sendiri.
atau ruh-ku. yang beberapa hari ini mengajakku membahas lebih dalam tentang rindu dan kesepian ku kepada Tuhan.
Pembunuh.
kau tahu, pembunuh paling jahat adalah diriku sendiri.
karena ia harus membunuh setiap rasa- bahkan dahsyatnya rindu yang tak bertuah.
Jawaban dari Keresahan.
tak ada lagi tulisan yang membualiku.
tapi kini aku paham.
itulah jawaban atas segala kegelisahanku selama ini.
jawaban bahwa ia memang semu-menyemukan. dan tak akan pernah nyata.
sekalipun aku berusaha membenarkan-itu tak akan pernah benar. sedikitpun!
aku sudah memiliki jawabannya. malam ini.
aku harus menutup rapat- menjaga kesetiaanku-harus!
Pelukan.
aku memang harus memeluk semua kenangan menyakitkan itu. harus.
agar damai hatiku. aku tak akan melupakan. aku akan selalu memeluknya.
Langganan:
Postingan (Atom)
