Perempuan, Puisi, dan Ketidakwarasan.
Hari ini aku akan bercerita tentang perempuan yang memilih mencintai kata setelah dirinya luruh bersama kata.
.
.
Perempuan itu baru saja patah hati. Namun, ia tak mendramatisir apa yang baru saja hilang dari hidupnya setelah begitu lama mendiami hatinya.
Sudah tak ada lagi tangisan, ingatan-ingatan yang mengubahnya menjadi sebuah cerita.
Namun, menjelang usianya ke-21 tahun, ia mulai berkenalan dengan beberapa baris kata, yang lama-lama mengubahnya bak alunan sendu.
Setiap hari ia dibanjiri puisi dari kota pemiliknya.
Ia tak menyukai pengirim kata-kata itu, namun ia menyukai setiap puisi yang ditulis olehnya dan beberapa untuknya. Ia mulai merasakan setiap kata yang tercipta.Fatamorgana menghampirinya, namun ia masih ingin melayang-layang bersama kata-kata yang sudah merasukinya. Tepat di usianya ke-21,puisi begitu deras menghujaninya, ia kebasahan, usianya begitu membasah.
Sekali lagi, itu fatamorgana setelah itu tak ada ceramah puisi, hujan kata-kata. Musim kemarau kata mulai menggantikannya.
Hari-harinya mulai diisi dengan kewarasan sebagaimana mestinya.
Namun, lagi-lagi menjelang usianya ke-22 tahun ia berhadapan kembali dengan kata-kata puisi. Tapi kali ini berbeda, ia tak begitu menggubrisnya meski rasanya ia begitu tergoda ingin mencicipi rasa puisi itu.
Akal begitu mendominasinya namun akhirnya ia merasakannya juga. Manis dan penuh ketidakberdayaan menurutnya.
Lagi-lagi ia dihadapkan dengan kefatamorganaan. Ia mendesah resah, merasa konyol tertawa terbahak hingga menangis tersedu-sedu.
Fatamorgana adalah sahabat sunyi dari pemilik kata-kata, menurutnya.
Ia menutup kisahnya dengan kata-kata,
"Kalau aku harus jatuh cinta kepada penyair, aku pastikan akan jatuh pada kata-katanya, bukan pada pemiliknya. "
Cinangka, 18/02/17.
0 komentar:
Posting Komentar