Minggu, 18 Februari 2018
Senin, 09 Oktober 2017
Muslim yang beriman adalah muslim yang bertawakkal
Selasa, 16 Mei 2017
Gerah
Akhir-akhir ini, Jakarta begitu gerah bagiku.
Terlebih tempat tinggalku kini.
Aku seperti dalam sauna.
Jakarta gerah.
Namun, bukan gerah di sana saja.
Di sini juga.
Di mana aku, sudah menanggalkan beberapa atribut mengingatmu.
Meski menyesakkan,
Aku harus melakukannya.
Menerjang rindu yang terus menghantam.
Dan aku tak ingin mengalah, aku membiarkan rindu yang mengalah.
Dan aku, menuju mati rasa.
Senin, 08 Mei 2017
Mengarang Bebas
Sabtu, 22 April 2017
Pertemuan
Aku menunggu dengan resah.
Pertemuan ini rasanya seperti pertama kali.
Padahal sebelumnya kita sesekali bertegur sapa dalam dunia maya.
Aku gerah, mataku merah. Kelelahan setelah seharian memanjakan mata.
Tapi, rasa lelah itu tergantikan dengan senyumanmu dalam menyapaku.
Kita sudah bertemu.
meski sungguh tidak yakin dengan keadaan diriku yang tidak ada persiapan apapun, dandan tidak, baju kumel, dan persiapan isi percakapan, aku sama sekali tak menyiapkannya. Begitu apa adanya bertemu denganmu.
Aku mencoba untuk menyamankan diriku senyaman mungkin.
Bertemu denganmu harusnya menjadi hal yang biasa saja, tapi tempat dan waktu yang menjadikannya tak biasa.
Percakapan terasa sedikit canggung (bagiku), karena aku tak menyiapkan apapun untuk berbincang denganmu. Sangat berbeda denganmu yang sepertinya terbiasa berbicara penuh dengan makna. Aku seperti dihadapkan pada tumpukan buku, mendengarkan dengan seksama seperti membaca sekaligus memahami kata demi kata yang terucap.
Aku lebih banyak mendengarkan, memerhatikan caramu berbicara meski sesekali aku membalas dengan anggukan atau dengan perkataan juga.
Malam itu, di kota pelajar begitu ramai, terlebih di Malioboro, mungkin semakin malam semakin ramai, dan pembicaraan semakin sedikit, lebih banyak menikmati malam.
Aku, mulai menyusuri jalan sepanjang Malioboro melihat-lihat (lagi) apa yang sudah aku lihat dua hari sebelumnya.
Dan pertemuan kita selesai, selebihnya kata-katamu yang menemani hariku di kota itu.
21/04/17.
Jumat, 03 Maret 2017
Perempuan, Puisi, dan Ketidakwarasan II
Hari ini, kisah menutup alurnya sendiri tanpa keikutsertaan penulisnya. Ia lebih memilih menutup kisah yang ia buat sendiri, yang ia sebenarnya tahu bahwa ini hanya dugaannya saja.
.
Kisah menutup alurnya sendiri tanpa keikutsertaan penulisnya. Karena ia tahu, penulisnya sudah jauh-jauh hari mencoba tidak mengikuti kata hati, mencoba melawan dugaan selama ini.
.
Padahal, kisah sudah mencoba mengingatkan kepada penulisnya agar mau melanjutkan kembali alur, bahkan konflik yang ia butuhkan dalam cerita ini, "Aku tak pandai membuat konflik di dalam cerita," jawabnya pasrah.
.
Dan hari ini, perempuan, puisi, dan ketidakwarasan sudah tak memiliki 'jiwa' nya lagi.